Sake atau anggur Jepang adalah fermentasi dari beras yang rasanya manis dan berkadar alcohol 18-20 persen, lebih tinggi dari kebanyakan minuman beralkohol lain seperti bir yang kandungan alkoholnya 3-9 persen dan anggur yang berkadar 9-16 persen. Sejarah sake dimulai pada jaman Nara pada tahun 710-794 sesudah Masehi yang pada waktu itu konsumsi sake hanya terbatas pada keluarga kerajaan. Sake mulai dijual secara bebas pada jaman restorasi Meiji sekitar tahun 1868-1912.

Hampir semua restoran Jepang di seluruh dunia menyediakan minuman ini. Di salah satu cabang restoran Jepang Sushi-Tei yang ada di Tunjungan Plaza, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, sake disajikan dengan 2 cara. Pertama diminum dingin. Yang ke dua penyajian dalam keadaan panas. Cara penyajiannya sangat unik. Sake dipanaskan dengan microwave atau dididihkan. Setelah mendidih, sake yang sudah panas dituang di guci kecil model otentik Jepang, kira kira isinya 180 ml  dan diletakkan pada sebuah mangkok berisi air panas, lalu disajikan beserta cawan cawan mini khas oriental. Untuk sake yang dingin cara penyajiannya juga sama, hanya tidak dipanaskan dan guci sake diletakkan di kotak ornament khas Jepang. Harganya berkisar Antara Rp. 80.000,- sampai Rp. 100.000,- per 180 ml, tergantung dari jenis sake. Di sana dijual 2 jenis sake, yaitu Honjozo-Shu yang berwarna bening dan yang keruh berwarna putih yang disebut Nigori. Sake jenis ini berwarna keruh karena tidak difilter.

Sebenarnya sake tidak hanya terbatas  untuk minuman saja. Sake selalu digunakan untuk dalam saus yang digunakan untuk memasak aneka makanan khas Jepang seperti sushi dan teriyaki untuk membuat aroma lebih harum. Sake baik buat minuman maupun memasak dengan berbagai merek dapat dibeli di toko toko yang menjual alkohol seperti Sinar supermarket di daerah Kapas Krampung juga swalauan tempat tujuan para ekspatriat seperti Papaya dan Hoki.

Sake yang dijual di restoran Jepang maupun toko alcohol di Indonesia semuanya diimpor dari negara Sakura karena memang sampai saat ini belum ada orang di Indonesia yang memproduksi sake secara masal, walaupun ada pula orang yang mungkin bisa membuat sake.